Kamis, 31 Mei 2012

Potensi Kemangi (Ocimum americanum L.) Sebagai Pestisida Nabati





Kesadaran masyarakat akan dampak negatif pestisida kimia terus berkembang. Oleh karena itu, untuk mengatasi dampak negatif penggunaan pestisida kimia, seperti pencemaran lingkungan (tanah dan air), imunitas hama, dan terjadinya ledakan hama maka diperlukan kebijakan perlindungan tanaman/pengendalian organisme penggangu tanaman (OPT) yang mengacu pada konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Konsep ini memadukan satu atau lebih teknik pengendalian yang harus memenuhi persyaratan keamanan/ramah lingkungan dan efektif tanpa adanya efek samping serta dapat menjamin pertanian berkelanjutan. Penggunaan pestisida nabati merupakan salah satu solusi terbaik untuk mengatasi dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia. Pestisida nabati mempunyai beberapa keunggulan antara lain: murah dan mudah dibuat sendiri oleh petani, relatif aman terhadap lingkungan, tidak menyebabkan keracunan pada tanaman, sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama, kompatibel digabung dengan cara pengendalian yang lain dan menghasilkan produk pertanian yang sehat karena bebas residu pestisida kimia. Pestisida nabati dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik. Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik, yaitu :
  • merusak perkembangan telur, larva dan pupa.
  • menghambat pergantian kulit.
  • mengganggu komunikasi serangga.
  • menyebabkan serangga menolak makan.
  • menghambat reproduksi serangga betina.
  • mengurangi nafsu makan.
  • memblokir kemampuan makan serangga.
  • mengusir serangga.
  • menghambat perkembangan patogen penyakit.
Beberapa contoh bahan baku pestisida nabati antara lain: Tembakau, Kenikir, Pandan, Kemangi, Cabe Rawit, Kunyit, Bawang Putih, Gadung, Sereh dll. Kemangi merupakan salah satu bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati yang sangat berperan dalam mengendalikan hama kutu dan ulat.
Di Indonesia terdapat beberapa jenis kemangi yang mempunyai nilai ekonomis penting dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai penghasil minyak atsiri yang digunakan untuk obat-obatan, pengharum, bumbu, dan bahan baku pestisida nabati dengan klasifikasi ilmiahnya. Kemangi merupakan tanaman semak perdu yang tumbuh liar dan berpenampilan cukup rimbun. Tanaman ini memiliki bunga berwarna putih batang halus dengan daun pada setiap ruas, daun berwarna hijau muda dengan bentuk oval antara 3-4 cm (panjang), memiliki aroma yang khas dengan tinggi tanaman antara 60–70 cm dari permukaan tanah, selain memiliki bunga, kemangi juga memiliki biji dengan ukuran 0,1 mm. Kemangi dapat tumbuh di semua wilayah Indonesia, tumbuhan ini banyak dijumpai di daerah dataran rendah hingga ketinggian 1.100 m dari permukaan laut, kemangi dapat tumbuh pada tanah yang memiliki pH antara 5-7, pada kondisi tanah yang masam kemangipun dapat tumbuh dengan baik.
Tanaman kemangi berdasarkan senyawa utama (bahan aktif) dalam minyak yang dimilikinya, maka dapat dibedakan menjadi 4 tipe yaitu: (1) tipe Eropa (methyl chavicol, linalool), (2) tipe Reunion (methyl chavicol, camphor), (3) tipe methyl cinnamate, dan (4) tipe eugenol (eugenol). Senyawa methyl eugenol tertinggi terdapat pada tipe eugenol yang berfungsi sebagai penarik (atraktan) lalat buah (B. Dorsalis) senyawa utama tersebut mampu menarik hama lalat buah jantan masuk ke dalam perangkap. Selain berperan sebagai atraktan, pestisida nabati dapat diaplikasikan dengan cara yang sangat sederhana yaitu dengan mengumpulkan daun kemangi segar, kemudian dikeringkan. Setelah kering, baru direbus sampai mendidih, lalu didinginkan dan disaring. Hasil saringan siap diaplikasikan sebagai pestisida untuk pengendalian hama dan ulat di areal pertanaman, untuk hasil yang lebih optimal dengan memanfaatkan campuran bahan baku pestisida nabati sebagai berikut:
Bahan :
  • Tembakau 100gr
  • Kenikir 100gr
  • Pandan 100gr
  • Kemangi 100gr
  • Cabe rawit 100gr
  • Kunyit 100 gr
  • Bawang Putih 100gr
  • Aquadestilata 1 lt
  • Decomposer BSA (mikro organisme pengurai) 1-2 cc
  • Gula pasir 2 sendok makan.
Cara Pembuatan :
  • Semua bahan di blender dan di tambah 1lt air suling
  • Masukkan ke dalam botol yang steril
  • Tambahkan gula pasir 2 sdm
  • Tambahkan Decomposer BSA 1-2 cc
  • Tutup dan biarkan 1 minggu supaya terjadi fermentasi
  • Kemudian di saring.
  • Siap dipergunakan
Pengaplikasian /dosis pemakaian :
  • 60 cc untuk 1 lt air
  • Disemprotkan ke tanaman yang terkena hama pada daun dan batangnya
  • 1 minggu 1 kali, atau tergantung intensitas serangan
  • Pencairan 1lt harus habis 1kali pemakaian.
Dari hasil penelitian lainnya dengan pengaturan pola tanam kemangi dengan kubis mampu menurunkan intensitas serangan hama Plutella xylostella dan mampu meningkatkan produksi tanaman kubis secara organik. Tanaman kemangi tidak hanya baik untuk pertumbuhan tanaman kubis namun juga berperan menekan populasi hama Plutella xylostella. Hal ini disebabkan karena kemangi mengandung fenol (tynol) yang cukup tinggi mencapai 22,9-65,5 mg/g berat kering yang mampu berfungsi sebagai repellent dan anti mikrobial. Dengan kemampuannya menekan populasi hama maka kemangi menyebabkan tanaman kubis tumbuh dengan baik, dan tidak menganggu pertumbuhan tanaman.
Kebutuhan bahan baku cukup melimpah di alam dan sangat murah. Oleh karena itu diperlukan sosialisasi baik melalui penyuluhan maupun pelatihan dan demplot sebagai upaya untuk menyebarkan informasi tentang potensi suatu bahan ekstrak tumbuhan sebagai pestisida nabati dengan menggalakkan dan mengembangkan teknik ekstraksi sederhana yang dapat dilakukan oleh petani untuk mengendalikan hama secara individu dan kelompok. Selain itu, dukungan pemerintah melalui kebijakan yang mengarah kepada pemanfaatan pestisida nabati untuk keperluan pengendalian hama, terutama pada sistem pertanian organik juga sangat diperlukan sehingga masyarakat dapat terlindungi dari residu pestisida kimia. 

Artikel Oleh Hiryana Windiyani   



Membuat Pupuk Organik Cair dari limbah urine

Bahan dan Alat:
  
1 bak penampungan ukuran. 1 m³

1 pompa air
1 talang air panjang 4 m
Sambungan talang air
1,4 liter Bakteri Rumino Bacillus
1,4 liter bakteri Azoto Bacter
1100 liter urine sapi
Selang air
Lem pipa



Cara Pembuatan :
  1. 1,4 liter bacteri Rumino Bacillius dan 1,4 liter bakteri Azoto Bacter dimasukkan dalm 1100 liter air urine ke bak fermentasi,
  2. Kemudian diaduk sampai rata, selnjutnya ditutup rapat selama 1 minggu.
  3. Setelah 1 minggu dipompa dengan menggunakan pompa air dan dilewatkan melalui talang air, dibuat seperti tangga selama 6 jam, tujuannya untuk penipisan atau menguapkan kandungan gas ammonia, agar tidak berbahaya bagi tanaman yang akan di beri bio urine (Exotics Farm Indonesia 2010),
  4. Kemas dalam jirigen ukuran 5 liter
  5. Kemudian pupuk cair ini siap digunakan
Cara penggunaan :
  1. Untuk perendaman biji : 1 liter pupuk urine + 10 liter air direndam selama 10 menit.
  2. Untuk pupuk cair yang diaplikasikan lewat daun : 1 liter pupuk urine per tangki semprot
Kelebihan Pupuk Organik Cair
  1. Mempunyai jumlah kandungan nitrogen, fosfor, kalium dan air lebih banyak jika dibandingkan dengan kotoran sapi padat (Tabel 1)
  2. Mengandung zat perangsang tumbuh yang dapat digunakan sebagai pengatur tumbuh.
  3. Mempunyai bau yang khas urine ternak yang dapat mencegah datangnya berbagai hama tanaman.
Tabel 1 .Jenis dan Kandungan Zat Hara pada beberapa Kotoran Ternak Padat dan Cair ( Sumber Lingga 1991)
Nama ternak & Bentuk Kotorannya N (%) F (%) K (%) Air (%)
Kuda - Padat 0.55 0.30 0.40 75
Kuda - Cair 1.40 0.02 1.60 90
Kerbau - Padat 0.60 0.30 0.34 85
Kerbau - Cair 1.00 0.15 1.50 92
Sapi - Padat 0.40 0.20 0.10 85
Sapi - Cair 1.00 0.50 1.50 92
Kambing - Padat 0.60 0.30 0.17 60
Kambing - Cair 1.50 0.13 1.80 85
Domba - Padat 0.75 0.50 0.45 60
Domba - Cair 1.35 0.05 2.10 85
Sumber: www.sulsel.litbang.go.id


Rabu, 30 Mei 2012

Penanggulangan penggerek batang padi


 TEKNIK PENGENDALIAN PENGGEREK BATANG PADI



Penggerek batang padi merupakan hama utama tanaman padi di Indonesia. Di dunia terdapat 21 spesies penggerek batang yang beradaptasi pada agroekosistem padi, sedangkan di Indonesia terdapat enam spesies yang terdiri dari lima famili Pyralidae dan satu spesies dari famili Noctuidae.
Keenam spesies tersebut adalah penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas Walker, penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata, penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis Walker, penggerek batang padi kepala hitam Chilo polychrysus Meyrick, penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius Dudgeon, dan penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens Walker.
Penggerek batang menyerang tanaman padi sejak di persemaian hingga tanaman pada stadia matang. Semua spesies penggerek batang melalui metamorfosa sempurna sehingga siklus hidupnya terdiri atas stadia telur, larva, pupa, dan dewasa atau imago. Larva merupakan stadia yang menggerek tanaman dan menimbulkan kerusakan. Imago bersifat nocturnal, yaitu aktif di malam hari dan disebut ngengat atau moth.
Semua spesies penggerek batang padi menjalani proses yang sama, yaitu telur diletakkan pada daun atau pelepah daun. Larva yang baru menetas dari telur, yaitu larva instar 1, bergerak ke dalam tanaman melalui celah antara pelepah dan batang dan menuju bagian tengah anakan padi. Sebagian larva mengeluarkan benang halus dan dipakai untuk bergelantung pada bagian ujung daun dan berayun-ayun sampai ke rumpun padi yang lain atau permukaan air. 
Larva hidup dalam tanaman sampai instar ke-5 atau ke-6  larva, bergantung pada lingkungan dan larva pindah dari satu tunas ke tunas lainnya.
Spesies penggerek batang padi yang beradaptasi pada satu agroekosistem akan mejadi  spesies yang dominan. Dari enam spesies penggerek batang yang ditemukan pada tanaman padi di Indonesia, empat di antaranya lebih dominan. Keempat spesies tersebut  adalah penggerek batang padi kuning, penggerek batang padi putih, penggerek batang merah jambu, dan penggerek batang  bergaris.
Pengendalian hama penggerek batang padi mengedepankan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), sawah yang selalu tergenang air adalah yang paling disukai dan bahkan penularannya ke tanaman sehat sangat cepat, jadi cara alami yang paling efektif adalah mengeringkan permukaan sawah sampai benar benar kering. Apabila ini belum bisa dikendalikan juga maka jalan terakhir adalah penggunaan insektisida, merk yang cukup efektif mengendalikan penggerek batang adalah SPONTAN dengan penggunaan sesuai dosis pada label. Dalam hal ini pengendalian difokuskan pada hama sasaran dengan mempertimbangkan kelestarian ekosistem. PHT pengger. ek batang padi memerlukan bioekologi setiap spesies penggerek dan teknologi pengendalian sebagai komponen PHT.

Sumber: www.bbpadi.deptan.go.id