Kamis, 27 Maret 2014
TEKNIK BUDIDAYA BELUT
Cara Beternak Belut Sebagai Usaha Sampingan.
Beternak Belut atau Budidaya Belut merupakan
salah satu alternatif untuk memenuhi permintaan
pasar yang tinggi atas daging belut yang enak
dan bergizi karena terbatasnya belut yang hidup
secara alami di alam liar. Kali ini saya akan
berbagi informasi tentang bagaimana cara
Beternak Belut atau Budidaya Belut sebagai
salah satu alternatif usaha sampingan.
Belut Hasil Budidaya yang dijual dipingir jalan
Raja Desa Bulukarto Kabupaten Pringsewu –
Lampung
Keuntungan Budidaya Belut
Bisnis Beternak Belut atau Budidaya Belut bisa
dilakukan sebagai usaha sampingan yang
menawarkan keuntungan yang cukup menjanjikan,
belut juga dipasarkan ekspor ke beberapa
negara. Dengan menekuni bisnis Beternak Belut
atau Budidaya Belut banyak pemula yang belum
mengetahui seluk beluk teknik Beternak Belut
atau Budidaya Belut sehingga kurang memberikan
hasil yang memuaskan.
Kendala Budidaya Belut
Ada beberapa kendala kasus yang sering ditemui
dalam melakukan Beternak Belut atau Budidaya
Belut, diantaranya permasalahan tersebut
misalnya adalah belut tidak bisa besar, belut
banyak yang mati dan lain-lain. Untuk
menanggulangi permasalahan tersebut, perlu
pengetahuan teknik Beternak Belut atau
Budidaya Belut yang cukup.
Media Budidaya Belut
Media pemeliharaan untuk Beternak Belut atau
Budidaya Belut bisa berupa kolam semen, kolam
terpal dan bahkan drum bekas yang penting
belut tidak lari keluar media. Ukuran kolam juga
disesuaikan dengan ketersediaan lahan dan
tentunya ini berkaitan pula dengan bibit belut
yang akan di tebar. Selain itu kolam untuk
Beternak Belut atau Budidaya Belut diupayakan
menyerupai habitat aslinya, untuk membuat
demikian media pada kolam diisi dengan tanah
sawah atau lumpur kolam yang sudah dikeringkan,
pupuk kandang, pupuk kompos atau sekam/gabah
padi yang sudah dibusukan, bisa juga dengan
jerami padi, cincangan batang pisang, pupuk orea
dan pupuk NPK.
Penempatan media tersebut di atas dilakukan
dengan perbandingan:
Lapisan pertama paling bawah jerami padi
dengan tinggi/tebal 5 cm, ditaburkan secara
merata pupuk orea 5 kg dan pupuk NPK 5 kg,
untuk ukuran kolam 500 cm x 500 cm, apabila
kolam nya lebih besar atau lebih kecil ukuran
nya dari ukuran ini perbandingan pupuk di atas
bisa menjadi acuan.
Lapisan kedua tanah atau lumpur setinggi 5
cm.
Lapisan ketiga pupuk kandang setinggi 5 cm.
Lapisan keempat pupuk kompos setinggi 5 cm,
untuk lapisan keempat tanah atau lumpur
tinggi 5 cm.
Lapisan kelima adalah lumpur cincangan
batang pisang setinggi 10 cm.
Lapisan keenam adalah tanah lumpur setinggi
10 cm.
Lapisan ketujuh adalah air setinggi 10 cm dan
di atas air ditanami secara merata tumbuhan
enceng gondok sampai menutupi 3/4 permukaan
kolam.
Setelah semua media terisi didalam kolam
diamkan media pemeliharaan tersebut
selama 2 minggu agar seluruh media
mengalami fermentasi dan setelah 2 minggu
selesai proses fermentasi nya maka, benih
atau bibit belut dapat dimasukkan ke kolam
pemeliharaan tersebut.
Memilih Bibit Belut
Selanjutnya untuk mengoptimalkan hasil panen
Beternak Belut atau Budidaya Belut diperlukan
teknik pemeliharaan bibit yang baik dan tepat
sehingga memperoleh belut berkualitas baik dan
tidak menghasilkan keturunan up normal. Benih
belut yang dipilih harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
Anggota tubuhnya masih utuh dan mulus yaitu
tidak ada luka bekas gigitan
Gerakan tubuh lincah dan agresif
Penampilannya sehat yang di ciri kan dari
tubuhnya yang keras tidak lemas jika dipegang
Tubuhnya berukuran kecil dan berwarna kuning
kecoklat-coklatan dan usianya sekitar 2
bulan atau 4 bulan.
Fakta seputar kehidupan belut.
Belut mempunyai kelamin ganda pada
kehidupannya, belut menjalani pergantian kelamin
dari betina ke jantan dalam siklus kehidupannya.
Belut muda selalu berkelamin betina, sedangkan
belut yang sudah tua selalu berkelamin jantan
dan karena sifat-sifat belut serupa itu, maka
pada belut bisa mengalami masa kosong kelamin
atau disebut banci. Dengan adanya perubahan
kelamin inilah pada belut sering terjadi
kanibalisme, saling bunuh dan makan diantara
mereka sendiri.
Makanan Belut :
Secara alamiah belut memakan berbagai jenis
binatang kecil yang hidup atau terjatuh dalam
air seperti serangga, siput, dan juga cacing anak
katak serta anak ikan. Jadi belut tergolong
hewan karnivora yaitu ikan pemakan binatang
lain. Belut yang masih kecil memakan zooplankton
yang halus seperti antara lain protozoa atau
hewan bersel satu, microcrustacean atau
udang-udangan renik, invertebrata, microscopic
atau hewan-hewan tak bertulang belakang yang
keci-kecil sedangkan belut yang mulai dewasa
memakan larva-larva serangga, cacing, siput,
berudu kodok dan benih-benih ikan yang masih
lemah.
Karena belut menyukai binatang hidup, maka
tidak mudah belut mencari makanan. Untuk itu
belut menyergap mangsanya dengan membuat
lubang perangkap, lubang ini dibuat dengan
menggali lumpur baik ditepian perairan maupun
ditengah sawah atau rawa. Lubang penyergap ini
bergaris tengah 5 cm dan memanjang seperti
terowongan bentuk lubang mula-mula tegak
kebawah lalu membengkok dan mendatar.
Pemanenan Budidaya Belut
Untuk memanen belut diperlukan ketepatan
waktu panen diperlukan wadah penampung juga
perlu disiapkan untuk membawa belut hasil panen
dilokasi penjualan. Belut siap panen untuk
kebutuhan pasar lokal dari mulai penaburan benih
sampai pemanenan minimal 3 bulan dengan jumlah
per kg sekitar 20-30 ekor. Untuk pemenuhan
kebutuhan pasar ekspor dari mulai penaburan
benih minimal 8 bulan dengan jumlah per kg nya
dibawah 7 ekor.
Itulah berbagai tahapan dan teknik Beternak
Belut atau Budidaya Belut sebagai usaha
sampingan, saya berharap informasi ini dapat
menambah wawasan dan pengetahuan serta
bahan referensi jika anda ingin mencoba usaha
baru.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar